Thursday, July 7, 2011

SEJARAH ISLAM ASIA TENGGARA

A. Garis Besar Kondisi Islam Asia Tenggara
Islam terus memutarkan roda penyebarannya, hingga ke seluruh penjuru dunia, hal ini mencakup pula wilayah RAS Melayu, yakni Asia Tenggara. Setelah Islam menyebar di daerah Timur Tengah dan mengekspansi kekuasan ke wilayah-wilayah, kini giliran Asia Tenggara yang siap disinggahi dan disebari dakwah syia’ar Islam (Badri Yatim: 2007,176). Asia Tenggara merupakan tempat Islam baru mulai berkembang, yang merupakan daerah rempah-rempah terkenal pada masa itu, dan Asia Tenggara mejadi wilayah perebutan negara-negara Eropa.
Kekuatan Eropa lebih awal menginjakan kaki dan mengibarkan kejayaan di negeri melayu ini, hal ini karena Kerajaan Islam di Asia Tenggara lebih lemah dibanding dengan kerajaan Timur Tengah, sehingga amat mudah untuk ditaklukan, hal ini tergambar dengan merajalelanya kaum bangsa Eropa yang menancapkan tongkat penjajahan. Asia Tenggara merupakan salah satu negeri Dunia Islam, adapun yang dimaksud dengan dunia Islam yakni negara-negara atau bangsa yang persentase penduduk muslimnya lebih dari 50 % dari keseluruhan jumlah penduduk.pertimbangan jumlah ini merupakan pertimbangan pertama dan terpenting, disamping itu pula ada pertimbangan-pertimbangan lain, seperti undang-undang negeri, atau kepala nagar negeri, pula kebudayaan negeri itu.
Asia Tenggara menjadi salah satu bagian negara terbesar, kategorinya yakni cakupan Islam yang luas, banyak berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di wilayah ini menjadi tolak ukur tentang pernyataan bahwa Asia Tenggara merupakan wilayah Islam terbesar dan terluas penyebaran syi’ar Islamnya. Jumlah kaum muslimin di dunia hampir mencapai 1.344.000.000 yang berda di negara-negara kafir. Meskipun sjarah mencatat bahwa kaum minoritas muslim berada di benua Asia, namun Asia Tenggara menpis bahwa ranah ini menjadi daerah penyebaran Islam terbanyak..
Adapun luas wilayah dunia Islam secara global, mencapai 31,8 juta km, atau sebanding dengan 25% dari seluruh luas dunia. Memanjang mulai dari Indonesia di sebelah timur hingga ke Sinegal di sebelah barat dari utara Turkistan hingga ke selatan Mozambik. Adapun wilayah-wilayah Asia Tenggara secara khususnya mencakup negara-negara Malysia, Indonesia, dan Filiphina Selatan. Adapun Islam telah tersebar dari wilayah ini lewat jalur perdagangan dan dakwah.
Akhir Abad ke-16 M, giliran Belanda, Inggris, Denmark, dan Perancis yang datang ke Asia Tenggara. Belanda datang pada tahun 1595 M dan segera dapat memonopoli perdagangan. Sebagaimana di India, di Asia Tenggara kekuasaan poltik negara-negara Eropa itu berlanjut terus sampai pertengahan abad ke-20 M, ketika negeri-negeri jajahan tersebut memerdekakan diri dari kekusaan asing.


B. Kondisi Perkembangan Islam Di Malaysia
Portugis mulai menjalin hubungan denagn Malaka lewat kedok ekonomi dan perdagangan, dan melalui kemenangan mereka dalam perang Dewa (915 H/ 1509 M). Mereka kemudian menguasai Malaka pada tahun 917 H/ 1511 M. Mereka telah berlaku sewenang-wenag di wilayah ini, pada tahun 1051 H/1641 M penjajahan ini terhenti, lalu dimulailah penjajahn Belanda.
Belanda mengawali aktifitasnya denagn mendirikan perserikatan dagang Hindia-Belanda. Melalui perserikatan ini Inggris memperoleh pasar dari Belanda, hingga akhirnya Belanda menghapuskan perserikatannya pada tahun 1215 H/ 1800 M. Kekuasaan Belanda di wilayah ini berakhir sejak tahun 1201 H/ 1795 M. Kemudian lewat perjanjian kesepakatan diantara mereka, diserahkanlah Melayu kepada Inggris, sedangakan Belanda mendapatkan kepulauan Indonesia. Setelah itu munculah revolusi didalam negeri menentang penjajahan ini. Pada pertengahan perang Dunia II, Jepang menguasai Melayu, setelah berakhirnya perang, Inggris kembali menjajah wilayah ini. Mereka tetap berkuasa hingga negeri ini memerdekakan diri pada tahun 1377 H/ 1957 M dengan nama Malaysia.
Islam pada saat ini sulit untuk disebarakn, terlebih negeri ini sedang terguncang oleh dunia Eropa. Namun denagn gesit para penyiar dan kerajaan0kerjaan yang masih bertahan perlahan Islam tersebar dan berkembang di negeri ini, meskipun pada kenyataannya kondisi perkembangan Islam di Malysia tidak sebesar perkembangan di Indonesia.
C. Kondisi Perkembangan Islam Di Maladewa Dan Filiphina
Islam tersebar di wilayah ini pada abad ke-6 H/12 M. Saat itu penjajah Portugis telah sampai di wilayah ini. Kemudian disusul oleh Belanda dan Inggris yang datang pada tahun 1211H/1796 M. Terjadilah perlawanan dan revolusi di negeri ini sejak tahun 1305 H. Negeri ini berada dibawah perlindungan Inggris sejak tahun 1367 H/ 1947 M, dan mengumumkan diri sebagai negara republik yang merdeka pada tahun 1385 H/ 1965 M. Adapun di Filiphina, Islam tersebar hampir mencapai seluruh kepulauannya, pula telah berdiri pemerintahan Islam. Akan tetapi, munculah arus pemiliran keagamaan yang dibawa oleh penjajah Spanyol yang amat dibenci.
Pada tahun 928 H/ 1521 M, secara mendadak Spanyol menyerbu kepulauan-kepulauan Filipina. Mereka datang denagn membawa seluruh dendam orang-orang salib terhadap kaum muslimin,. Maka, situasi di Filipina saat itu hampir sama denagn situasi yang dialami oleh Islam Andalusia. Penjajah Spanyol berada di Filiphina ini hingga tahun 1316 H/ 1898 M.
Selama masa yang hampir mencapai 4 abad, telah terjadi upaya penjauhan ajaran Islam dari generasi kaum muslim secara berturut-turut lewat jalan peperangan yang menghancurkan kaum muslimin dan memaksa mereka untuk memeluk agama Nasrani denagn ancaman kekerasan. Sekalipun demikian, mereka tidak juga mampu mengalahkan pemerintahan-pemerintahn Muslim, sehingga disana masih tersisa beberapa pemerintahan. Spanyol belum berhasil sepenuhnya menguasai Filipina khususnya kepulauan Mindanao dan Sulu.
Amerika Serikat kemudian menguasai kepulauan Filipina pada tahun 1317 H/ 1899 M. Maka timbulah perlawanan menentanganya dan berlangsung hingga tahun 1339 H/ 1920 M. Setelah itu kaum Muslimin menyerah, karena mereka tealh ditimpa penyakit “wahn”(penyakit cinta dunia dan takut mati). Kemudian tersebarlah berbagai penyakit, kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan diantara mereka.
Pada saat itulah orang-orang salib menawarkan berbagai bantuan, hingga akhirnya Islam surut kembali di negeri itu. Amerika lalu mengumumkan kemerdekaan bagi Filipina pada tahun 1366 H/ 1946 M. Sekarang ini Islam hanya tinggal ada di 13 wilayah di selatan filipina, yang sampai saat ini masih tetap menuntut pemerintahan otonomi dengan segala upayanya.
D. Kondisi Perkembangan Islam Di Indonesia
Adapun perkembangan Islam di Indonesia, dicerminkan dengan banyak kerajaan kerajaan-kerajaan Islam yang berdiri. Adapun awal masuknya yakni lewat jalur perdagangan dan dakwah yang dibawa dari timur tengah dan india lewat jalur Aceh.
Kondisinya bisa dikatakan lebih baik dari negeri-negeri Melayu lainnya, seiring dengan banyaknya didirikan kerajaan-kerajaan Islam, seiring pula datangnya para orang Eropa mencari rempah-remapah, hingga akhirnya membentuk VOC. Indonesia yang menjadi tanah tropis dengan jalur garis katulistiwa yang nian indah dan subur, ternyata mengundang minat dan perhatian perdagangan dunia termasuk Eropa.
Eropa masuk lewat portugis dengan tujuan awal untuk berdagang namun setelah lama tujuan mereka beralih untuk mengeruk kekayaan alam Nusantara. Disamping itu merekan pun menyebarakan pula agama Nasrani, hingga tersebarlah di Indonesia berbagai agama yakni Islam yang dibawa oleh timur tengah, Nasrani oleh Portugis, dan Hindu Budha yang pertama kali menginjakan kaki penyebarannya di Indonesia oleh India.
Sebelum Islam datang ke Indonesia sebelumnya telah lebih dahulu hadir, dan penyebaran yang dilakuakn yakni oleh orang India yang membawa dakawah agama Hindhu Budha. Maka sebenarnya, kerajaan yang berdiri pertama kali banyak dari kalangan basic Hindu Budha, namun setelah orang-orang Arab menginjaka kaki pertama kali di Nusantara dan sembari membawa syi’ar dakwah Islam, maka seiring itu bedirilah kerajaan-kerajaan Islam menyusul kerajaan-kerajaan Hindu Budha yang telah lama berdiri.
Adapun kerajaan-kerajaan Islam yang menjadi cermin pesatnya penyebaran Islam di Indonesia adalah:
1. Kerajaan Aceh ( 920-1322 H/ 1514-1904 M)
Kerajaan ini terletak disebelah Sumatera, wilayah ini memiliki posisi penting, karena dua hal, yaitu karena penyebaran Islam dan perlawananya terhadap penjajah. Sultan pertamanya yang terkenal adalah Ali Mughits Syah (920-935 H 1514-1520 M). Namun masa kekuasaan yang gemilang dipegang pada masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda, diamana kekuasaannya meluas dan terjadi penyebaran Islam hampir diseluruh Sumatera.
Kemudian kondisi ini semakin menurun disebabkan oleh bnayaknya peperangan dan krisis ekonomi. Juga beralihnya kekuasaan ke tangan ratu-ratu dalam beberapa masa periode. Juga karena peperangan yang terus menerus melawan barat. Hingga akhirnya kerajaan ini jatuh ke tangan Belanda pada tahun 1322 H/ 1904 M).
2. Kerajaan Demak (918-920 H/ 1512-1522 M)
Kerajaan ini hanya berumur pendek, namun pahlawan-pahlawannya adalah Mujahid terbaik. Raja pertamanya adalah Raden Fatah, lau Patih Unus, yang berhasil melakuakan ekspansi perluasan wilayah, diapun yang menghilangkan kerajaan Majapahit yang beragama Hindu.
Setelah wafatnya Patih Yunus maka kekuasaan dipegang oleh Patih Trenggono, yakni seorang Mujahid besar yakni akan usahanya masuklah Islam ke daerah Jawa Barat. Dan akhirnya dia wafat pada tahun 953 H/ 1546 M.
3. Kerajaan Banten (960-1096 H/ 1522-16854 M) Kerajaan Mataram Islam (991 1055 H/ 1583-1645 M)
Kerajaan ini terpisah dari kerajaan Demak, mencapai puncak kejayaannya pada masa Sultan Hasanuddin yang merupakan raja pertamanya. Kemudian Sultan Yusuf yang merupakan putranya dan berhasil melakuakna penamabahan penyebaran Islam di Jawa Barat, dan kerjaan ini menjadi pusat perdagangan yang penting.
Belanda memusatkan perhatiannya pada kerjaan ini, dan sat di pegang oleh Sultan Ageng Tirtayasa, kerajaaan ini mencapai puncak kejayaannnya, namun usaha Belanda tak sia-sia hingga akhirnya dapat mengalahkan Banten pada tahun 1096 H/ 1684 M
4. Kerajaan Gowa ( 1078 H/ 1667 M hingga abad ke-13 H/ 19 M)
Pada tahun 1583 kerajaan ini diperintah oleh seorang muslim bernama Senopati, yangberorientasi untuk menyebarakan Islam di seluruh Jawa. Adapaun raja Mataram yang terkenal adalah Sultan Agung, setelah wafatnya Sultan timbulah pertikaian didalam pemerintahan yang akhirnya memungkinkan Belanda mengalahkan mereka.
5. Kerajaan-kerajaan Semenanjung Melayu
Setelah jatuhnya Malaka, timbulah banyak kerajaan yang menempati posisinya. Kerajaan ini telah memberikan andil besar dalam menyebarkan Islam dan memerangi penjajah.
Selain denagn banyaknya kerajaan-kerajaaan Islam, kondisi perkembangan Islam di Indonesia pun dipengaruhi oleh tindak tanduk para penyiarnya yakni yang terkenal denagn wali songo, para wali ini terkenal denagn syi’ar dakwahnya yang gigih dalam menyebarkan Islam.
Dan terliaht pulalah dengan banyakanya ormas Islam yang berakar budaya di negri ini, bahakn hingga saat ini Indonesia mencatat sebagai negeri dengan muslim terbanyak
PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA
A. Asal-usul Islam di Idonesia
Di tinjau dari letak geografisnya, Indonesia termasuk dalam kawasan nusantara. Oleh karena itu sebelum kita mengetahui lebih jauh tentang asal-usul Islam masuk ke Indonesia maka kita terlebih dahulu mengetahui asal-usul masuknya Islam ke Nusantara.
Sejak zaman pra sejarah, penduduk kepulauan nusantara di kenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan nusantara dengan berbagai daerah di daratan Asia Tenggara.Wilayah barat nusantara dan sekitar malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian,terutama karena hasil bumi yang dijual disana menarik bagi para pedagang,dan menjadi daerah lintasan penting antara Cina dan India.Sementara itu,pala dan cengkeh yang berasal dari maluku dipasarkan di jawa dan Sumatra,untuk kemudian di jual kepada para pedagang asing pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra dan jawa antara abad ke-1 dan ke-7 M sering disinggahi oleh para pedagang asing, seperti lamuri (Aceh ), Barus dan Palembang di Sumatra, Sunda kelapa dan Gresik di Jawa.
Bersamaan dengan itu, datang para pedagang yang berasal dari Timur Tengah. Mereka tidak hanya membeli dan menjajakkan barang dagangan, tetapi ada juga yang berupaya menyebarkan agama islam. Dengan demikian, agama islam telah ada di Nusantara ini bersamaan dengan kehadiran para pedagang arab tersebut, meskipun belum tersebar secara intensif keseluruh wilayah Indonesia.
Pembahasan tentang Asal-Usul islam di Indonesia serta siapa pembawa nya menjadi perdebatan para ahli sejarah.banyak sekali para sejarawan yang mengupas tentang asal-usul islam masuk ke nusantara.Dan pada paparan berikut setidaknya ada tiga teori mengenai asal-usul islam di Indonesia.
Teori pertama mengungkapkan bahwa agama islam masuk ke nusantara berasal dari Persia.Teori ini di dukung oleh kenyataan bahwa di Sumatra bagian Utara (Aceh ) terdapat perkumpulan orang-orang Persia sejak abad ke-15 marrison menguatkan teori pertama ini dengan dasar adanya pengaruh Persia yang jelas dalam kesusateraan Melayu.Kedatangan ulama besar bernama Al-Qadhi Amir Sayyid Asyirazi dari Persia di kerajaan samudera Pasai ikut juga sebagai pengamat dan penegas teori Persia.
Teori kedua berpendapat bahwa agama islam masuk ke Nusantara berasal dari Negara India.Snouck hurgronje (Belanda ) misalnya mengungkapkan bahwa agama islam masuk ke Indonesia berasal dari kota Dakka, India.Walau berbeda dengan Snouck hurgronje ahli sejarah lain yaitu Pijnappel dan Moquette keduanya juga sama dari Belanda ini berpendapat bahwa agama islam masuk ke Indonesia berasal dari Gujarat dan Malabar, India.Pembawanya adalah orang Arab yang telah lama tinggal di Wilayah tersebut.Penggagas teori kedua ini mendasarkan penelitiannya pada kedamaan madzhab yang di anut oleh kaum muslimin di Indonesia dan di Gujarat.
Di samping itu Moquette menguatkan teori islam Indonesia berasal dari Gujarat (India ) , dengan hasil penelitiannya terhadap batu nisan di kedua wilayah tersebut.Menurutnya, ada persamaan mencolok dan jelas antara batu nisan di Pasai yang tertulis tanggal 17 Dzulhijjah 831 H /27 September 1428 M dan batu nisan syekh Maulana Malik Ibrahim ( salah satu wali Songo )di Gresik dwngan batu nisan di Cambay, Gujarat.Atas dasar pertemuan itulah , Moquette menegaskan bahwa Islam di Nusantara berasal dari Gujarat.Teori islam Nusantara ini juga diperkuat oleh Fatimi.Ia menyatakan bahwa Islam berasal dari Bengal .Hasil penelitian Fatimi atas batu nisan Malik al-Saleh diketemukan adanya banyak persamaan antara batu nisan tersebut dengan batu nisan di Bengal.Fatimi juga menguatkan pendapatnya dengan menandaskan bahwa kebanyakan para tokoh di Pasai adalah orang Bengal atau keturunan dari mereka.
Menurut pendapat Morisson; agama islam masuk ke Nusantara dibawa oleh orang-orang dari Pantai Coromandel.Pendapat yang sama sebelumnya pernah dikemukakan oleh Arnold.Ia mendasarkan penelitiannya pada kesamaan Madzhab antara kaum muslimin dari Pantai Coromandel (juga Malabar) dan Nusantara,yakni kebanyakan mengikuti madzhab Syafi’iyah .Namun , Arnold mengakui juga bahwa Coromandel dan Malabar tidaklah satu-satunya asal-usul islam masuk ke Nusantara .Ia berpendapat bahwa islam nusantara juga berasal dari Negara Arab.Teori Arnold yang menyatakan bahwa islam berasal dari India dan Arab sekaligus juga pernah dikemukakan oleh sejarawan yang bernama Crawford.
Teori ketiga Menurut sejarawan . Keijzer memiliki analisis yang berbeda,menurut nya,Agama islam masuk ke Nusantara berasal dari Mesir.Ia mendasarkan teorinya pada kesamaan madzhab ,yaitu madzhab Syafi’iyah.Sementara itu ,Niemann dan de Holander menyatakan Hadramaut sebagai tempat islam berasal.Pada umumnya,para ahli di Indonesia setuju teori Arab ini.
Berdasarkan hasil seminar Nasional masuknya islam ke Nusantara yang di adakan tahun 1969 dan tahun 1978 ,mereka menyimpulkan bahwa agama islam masuk ke Nusantara pada abad VII M dan langsung dari tanah arab.Daerah yabg pertama kali disinggahi adalah pesisir Sumatera.Agama islam disebarkan oleh para saudagar muslim yang juga bertidak sebagai muballigh,dan dilakukan dengan cara damai.
Sedangkan, Ketika Islam datang di Indonesia, berbagai agama dan kepercayaan seperti animisme, dinamisme, hindu dan budha, sudah banyak di anut oleh bangsa Indonesia bahkan di berbagai wilayah kepulauan Indonesia telah berdiri kerajaan bercorak hindu dan budha, mislanya kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, kerajaan Sriwijaya di Sumatera dan sebagainya. Namun Islam datang kewilayah-wilayah tersebut dapat diterima dengan baik, karena Islam datang dengan membawa prinsip-prinsip perdamaian, persamaan antara manusia ( tidak ada kasta ), menghilangkan perbudakan dan yang paling penting adalah masuk kedalam Islam sangat mudah hanya dengan membaca dua kalimat syahadat dan tidak ada paksaan.
B.Proses Penyebaran Islam di Indonesia
Ditinjau dari letak geografisnya , wilayah Indonesia terletak kawasan Asia Tenggara .Masyarakat di wilayah ini telah mempunyai peradaban yang tinggi sebelum kedatangan islam. Hal demikian dikarnakan kawasan Asia Tenggara terdiri dari Negara-negara yang memiliki kesamaan budaya dan agama. Negara-negara ini, termasuk Indonesia telah memiliki kontak dengan peradaban bangsa India dan Cina. Tidak hanya dalam aspek peradabannya saja, tetapi juga adat istiadat , agama dan kepercayaan.
Islam masuk ke Indonesia, bukan dengan peperangan ataupun penjajahan. Islam berkembang dan tersebar di Indonesia justru dengan cara damai.Proses penyebaran agama islam di Indonesia dilakukan dengan banyak cara.yaitu melalui perdagangan , perkawinan , pendidikan ,politik, kesenian, tasawuf, yang kesemuanya mendukung meluasnya ajaran agama islam.
1) Perdagangan. Pada abad ke-7 M, bangsa Indonesia kedatangan para pedagang islam dari Arab,Persia, dan India.Mereka telah ambil bagian dalam kegiatan perdagangan di Indonesia.Hal ini konsekwensi logisnya menimbulkan jalinan hubungan dagang antara masyarakat Indonesia dan para pedagang islam .Di samping berdagang, Sebagai seorang muslim juga mempunyai kewajiban berdakwah maka para pedagang islam juga menyampaikan dan mengajarkan agama dan kebudayaan islam kepada orang lain.Dengan cara tersebut, banyak pedagang Indonesia memeluk agama islam dan mereka pun menyebarkan agama dan budaya islam yang baru dianutnya kepada orang lain.Dengan demikian,secara bertahap agama dan budaya islam tersebar dari pedagang Arab , Persia, India kepada bangsa Indonesia.Proses penyebaran islam melalui perdagangan sangat menguntungkan dan lebih efektif di banding cara lainnya.Apalagi yang terlibat dalam perdagangan bukan hanya dari golongan masyarakat bawah, melainkan juga golongan kelas atas seperti kaum bangsawan atau raja.
2) Perkawinan. Para pedagang muslim melakukan aktifitas perdagangan dalam waktu yang cukup lama.banyak dari mereka yang tinggal dalam waktu yang cukup lama dalam suatu daerah.Keadaan inilah yang mempererat hubungan mereka dengan penduduk pribumi atau dengan kaum bangsawan pribumi.Hubungan komunikasi yang baik ini tidak jarang diteruskan dengan adanya perkawinan antara putri kaum pribumi dengan para pedagang muslim.Lambat laun terbentuk masyarakat muslim dengan adat islam hingga suatu saat terbentuknya sebuah Kerajaan islam .Misalnya,perkawinan Raden Rakhmat atau Sunan Ampel dengan Nyai Manila, perkawinan antara Sunan Gunung Djati dengan Putri Kawungaten , perkawinan antara Raja Brawijaya dengan putrid Jeumpa yang beragama islam kemudian berputera Raden Patah yang pada akhirnya menjadi raja Demak.
3) Politik.Seorang raja tentu saja mempunyai kekuasaan dan pengaruh yang besar dan memegang peran yang penting dalam proses Islamisasi.Pada saat seorang raja memeluk agama islam, maka rakyat juga akan berbondong-bondong mengikuti jejak rajanya memeluk agama islam.Telah dimaklumi masyarakat Indonesia memiliki kepatuhan yang tinggi dan seorang raja selalu menjadi panutan bahkan menjadi contoh bagi rakyatnya.Setelah raja dan rakyat memeluk agama islam, maka kepentingan politik dilakukan dengan cara perluasan wilayah kerajaan , yang diikuti dengan penyebaran agama islam.misalnya,Sultan Demak mengirimkan pasukan nya dibawah pimpinan Fatahillah untuk menguasai wilayah jawa barat dan memerintahkan menyebarkan agama islam disana.

4) Pendidikan. Seluruh Da’i, Ulama, guru-guru agama , ataupun para kyai memegang peranan penting dalam penyebaran agama islam dan kebudayaan islam.mereka menyebarkan islam melalui jalur pendidikan, yaitu dengan mendirikan pondok-pondok pesantren. Pondok pesantren adalah pusat tempat pengajaran agama islam bagi para murid yang di lingkungan pesantren dinamakan santri. Mereka kemudian menyebarkan dan mengembangkan agama islam ke masyarakat, bahkan setiap santri setelah lulus dari pesantren mereka selalu berusaha untuk dapat membangun pesantren sendiri dan juga tempat ibadah sehingga tak asing kita banyak menjumpai pondok pesantren di sekitar kita.
5) Kesenian. Penyebaran agama islam melalui kesenian dapat dilakukan dengan mengadakan pertunjukkan seni gamelan da Wayang.Cara seperti ini banyak ditemui di jogjakarta, Solo, Cirebon, dan lain-lain.Seni gamelan banyak digemari masyarakat jawa dan ini tentu dapat mengundang masyarakat berkumpul dan selanjutnya dilaksanakan dakwah islam.
6) Tasawuf. Seorang Sufi biasa dikenal dengan hidup dalam kesederhanaan , mereka selalu menghayati kehidupan masyarakatnya dan hidup bersama di tengah-tengah masyarakatnya.Para sufi biasanya memiliki keahlian yang membantu masyarakat,diantaranya ahli dalam menyembuhkan penyakit dan lain-lain.mereka juga aktif menyiarkan dan mengajarkan ajaran islam .Penyiaran agama islam dengan mudah dapat diterima oleh masyarakat.Para sufi pada masa itu antara lain Hamzah Fansuri di Aceh dan Sunan Panggung jawa.
7) Kekuasaan politik . Artinya penyebaran islam di Nusantara, tidak terlepas dukungan yang kuat dari para sultan. Di pulau Jawa, misalnya kesultanan Demak, merupakan pusat dakwah dan menjadi pelindung perkembangan Islam. Begitu juga raja-raja lainnya di seluruh Nusantara, dan para sultan di seluruh Nusantara salain bahu-membahu dan tolong-menolong dalam melindungi dakwah Islam.
C. Perkembangan Islam di beberapa wilayah Nusantara (Indonesia)
1). Di Sumatra
Kesimpulan hasil seminar medan di atas, dijelaskan bahwa wilayah Nusantara yang mula-mula di masuki Islam adalah pantai barat pulau Sumatera dan daerah asai yang terletak di Aceh Utara yang kemudian masing-masing kedua daerah tersebut berdiri kerajaan Islam yang pertama yaitu kerajaan Perlak dan Samudra Pasai. Menurut keterangan Prof. Aly Hasmy dalam makalah pada seminar “ Sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Aceh” yang di gelar tahun 1978 disebutkan bahwa kerajaan Samudra Pasai lah kerajaan pertama di Nusantara dengan rajanya yang pertama adalah Sultan Malk As-shaleh (1261-1297). Sultan Malik As-Saleh sendiri semula bernama Merah Silu setelah mengawini putrid raja Perlak kemudian masuk islam berkat pertemuannya dengan utusan Syarif Mekkah yang kemudian memberi gelar Sultan Malik as-Saleh.
Kerajaan Islam samudera Pasai adalah kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kemunculannya sebagai kerajaan Islam diperkirakan sekitar awal atau pertengahan abad ke-13 M sebagai hasil proses Islamisasi daerah-daerahpantai yang pernah disinggahi oleh para pedagang muslim sejak abad ke-7 M, dan seterusnya. Raja pertamanya adalah Malik as-Sholeh.
Pulau Sumatera adalah daerah nusantara yang paling awal melakukan kontak dengan para saudagar muslim. Sebelum sampai di Cina, para pedagang dari Arab, Persia dan India singgah di pelabuhan-pelabuhan di sepanjang pantai Sumatera. Pada saat yang sama kerajaan sriwijaya sedang mengalami kemunduran, pusat-pusat pelabuhan dagang terus bergeser kearah utara. Keberadaan para saudagar muslim merupakan sumber ekonomi yang sangat menguntungkan. Keunggulan para pedagang muslim memudahkan mereka memantapkan posisi, sehingga dengan mudah bisa masuk kelingkaran istana melalui perkawinan dengan perempuan dari kalangan bangsawan setempat.
Letak kerajaan Samudera pasai berada di pesisir timur laut Aceh ( Aceh Utara sekarang). Kerajaan Samudera Pasai ini berdiri berdiri sampai tahun 1524 M. pada tahun 1521 M kerajaan Samudera ditaklukkan dan dikuasai oleh bangsa Portugis yang kemudian menguasainya selama tiga tahun. Setelah itu, sejak tahun 1524 dan seterusnya, kerajaan Samudera Pasai masuk dibawah kerajaan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam. Kerajaan Aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada awal abad ke-16 M. ia memerintah antara tahun 1507 M hingga 1522 M.
2). Di Jawa
Benih-benih kedatangan Islam di pulau Jawa sebenarnya sudah dimulai pada abad pertama Hijriyyah atau abad ke-7 M. Hal ini di tuturkan oleh Prof.Buya Hamka dalam bukunya Sejarah umat Islam, bahwa pada tahun 674 M sampai 675 M. Sahabat Nabi, Muawiyah bin Abi Sufyan pernah singgah di tanah Jawa (kerajaan Kalingga) menyamar sebagai pedagang. Bisa jadi Muawiyyah saat itu baru penjajagan saja, tapi pposes dakwah selanjutnya dilakukan oleh para da’i yang berasal dari Malaka atau kerajaan Pasai sendiri. Sebab saat itu lalu lintas atau jalur hubungan antara Malaka dan pasai di satu pihak dengan Jawa dipihak lain sudah begitu pesat.
Adapun gerakan dakwah Islam di Pulau Jawa selanjutnya dilakukan oleh para Wali sanga, yaitu :
a. Maulana Malik Ibrahim ( Sunan Gresik )
b. Raden Ali Rahmatullah ( Sunan ampel )
c. Raden Aenul Yaqin atau Raden Paku ( Sunan Giri )
d. Makhdum Ibrahim ( Sunan Bonang )
e. Raden Syahid ( Sunan Kalijaga 0
f. Syarifuddin ( Sunan Drajat )
g. Syarif Hidayatullah ( Sunan Gunung Jati )
i. Raden Umar Said ( Sunan muria )
Walisongo sebagai jantung penyiaran Islam di Jawa. Ajaran-ajaran walisongo memiliki pengaruh yang besar dikalangan masyarakat Jawa, bahkan kadang kala menyamai pengaruh seorang raja. Kehadiran walisongo di terima dengan baik oleh masyarakat, karena walisongo menerapkan metode dakwah yang akomodatif dan lentur. Kedatangan para wali di tengah-tengah masyarakat Jawa tidak di pandang dipandang sebagai sebuah ancaman. Para wali menggunakan unsure-unsur budaya lama (Hindu dan Budha) sebagai media dakwah. Dengan sabar sedikit demi sedikit walisongo memasukan nilai-nilai ajaran Islam ke dalam unsure-unsur lama yang sudah berkembang metode ini biasa disebut dengan metode sinkretis.
3). Di Sulawesi
Ribuan pulau yang ada di Indonesia, sejak lama telah menjalin hubungan dari pulau ke pulau. Baik atas motivasi ekonomi maupun politikdan kepentingan kerajaan. Hubungan ini pula yang mengantar dakwah menembus dan merambah Sulawesi. Dan di Sulawesi terdapat kerajaan Gowa yang pada saat itu mempunyai hubungan baik dengan Ternatedi bawah pimpinan Babullah yang telah menerima Islam lebih dahulu. Melalui seorang da’i bernama Datuk Ri Bandang agama Islam masuk ke kerajaan ini dan pada tanggal 22 September 1605 Karaeng Tonigallo, raja Gowa yang pertama memeluk Islam yang kemudian bergelar sultan Alaudin Al-Awwal (1591-1636) dan di ikuti oleh perdana mentri dan atau wazir besarnya.
Setelah resmi menjadi kerajaan bercorak Islam Gowa Tallo menyampaikan pesan Islam kepada kerajaan-kerajaan lain seperti Luwu, Wajo, Soppeng dan Bone. Raja Luwu segera menerima pesan islam di ikuti oleh raja Wajo tanggal 10 Mei 1610 dan raja Bone yang bergelar Sultan Adam menerima Islam tanggal 23 November 1611. Dengan demikian Gowa (Makassar) menjadi kerajaan yang berpengaruh dan di segani. Pelabuhannya sangat ramai disinggahi para pedagang dari berbagagi daera dan mancanegara. Hal ini mendatangkan keuntungan yang luar biasa bagi kerajaan Gowa . Puncak kejayaan kerajaan Makassar terjadi pada masa Sultan Hasanuddin (1653-1669).
4). Di Kalimantan
Islam masuk ke Kalimantan atau yang lebih dikenal dengan Borneo melelui tiga jalur. Jalur pertama melalui malaka yang di kenal sebagai kerajaan Islam setelah perlak dan Pasai. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis kian membuat dakwah semakin menyebar sebab para mubalig dan komunitas muslim kebanyakan mendiami pesisir barat Kalimantan. Jalur kedua, Islam datang disebarkan oleh para mubalig dari tanah Jawa. Ekspedisi dakwah ke Kalimantan ini mencapai puncaknya saat kerajaan Demak berdiri. Demak mengirimkan banyak mubaligh ke negeri ini. Para da’I tersebut berusaha mencetak kader-kader yang akan melanjutkan misi dakwah ini. Maka lahirlah ulama besar, salah satunya adalah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Jalur ketiga, para da’I datanh dari Sulawesi (Makasar) teruta da’I yang terkenal saat itu adalah Datuk Ri Bandang dan Tuan Tunggang Parangan.
a. Kalimantan Selatan
Masuknya Islam di Kalimantan Selatan adalah di awali dengan adanya krisis kepemimpinan di penghujung waktu berakhirnya karajaan Daha Hindu. Saat itu Raden Samudera yang di tunjuk sebagai putera mahkota oleh kakeknya, Raja Sukarama minta bantuan kepadakerajaan Demak di Jawa dalam peperangan melawan pamannya sendiri, raden Tumenggung Sultan Demak ( Sultan Trenggono ) menyetujuinya, asal Raden Raden Samudera bersedia masuk Islam.
b. Kalimantan Timur
Di Kalimantan Timur inilah dua orang da’I terkenal datang, yaitu Datuk Ri Bandang dan Tuan Tunggang Parangan, sehingga raja Kutai ( raja mahkota) tunduk kepada Islam di ikuti oleh para pangeran, para menteri, panglima dan hulubalang. Untuk kegiatan dakwah Islam di kepulauan ini.
5). Di Maluku
Kepulauan Maluku terkenal di Dunia sebagai penghasil rempah-rempah, sehingga menjadi daya tarik para pedagang asing, tak terkcuali para pedagang muslim baik dari Sumatra, Jawa, Malaka atau dari mancanegara. Hal ini menyebabkan cepatnya perkembangan dakwah Islam di kepulauan ini. Islam masuk ke Maluku sekitar pertengahan abad ke-15 atau sekitartahun 1440 di bawa oleh para pedagang muslim dari Pasai, Malaka dan Jawa (terutama para Da’i yang dididik oleh para wali sanga di jawa). Tahun 1460 M, Vongi Tidore, raja ternate masuk islam. Namun menurut H.J De Graaft (Sejarawan Belanda) bahwa raja ternate yang benar-benar muslim adalah Zaenal Abidin (1486-1500 M). Setelah itu Islam berkembang ke kerajaan-kerajaan yang ada di Maluku. Tetapi di antara sekian banyak kerajaan Islam yang paling menonjol adalah dua kerajaan, yaitu Ternate dan Tidore.
Raja-raja Maluku yang masuk Islam seperti :
a. Raja Ternate yang bergelar Sultan Mahrum (1465-1486)
b. Setelah beliau wafat digantikan oleh Sultan Zaenal Abidin
c. Raja Tidore yang kemudian bergelar Sultan Jamaluddin
d. Raja Jailolo yang berganti nama dengan Sultan Hasanuddin
e. Pada tahun 1520 Raja Bacan masuk Islam dan bergelar Zaenal Abidin.
D. Peranan Umat Islam dalam mengusir penjajah 18
Ketika kaum penjajah datang ke Indonesia, islam sudah mengakar dalam hati bangsa Indonesia, bahkan saat itu sudah berdiri beberapa kerajaan Islam, seperti Samudera Pasai, Perlak, Demak dan lain-lain.
Beberapa ajaran islam seperti jihad, membela yang tertindas, mencintai tanah air dan membasmi kedzaliman adalah factor terpenting dalam membangkitkan semangat melawan para penjajah. Bisa dikatakan bahwa hamper semua tokoh pergerakan, termasuk yang berlabel nasionalis radikal sekalipun sebenarnya terinspirasi dari ruh ajaran Islam. Sebagai bukti misalnya Ki Hajar Dewantara ( Suryadi Suryaningrat ) tadinya berasal dari Sarekat Islam (SI), Soekarno sendiri pernah menjadi guru Muhamadiyyah dan pernah nyantri di bawah bimbingan Tjokroaminoto, RA Kartini juga sebenarnya bukanlah seorang yang hanya memperjuangkan emansipasi wanita ia seorang pejuang Islam yang sedang dalam perjalanan menuju Islam yang kaffah. Ketika sedang mencetuskan ide-idenya ia sedang beralih dari kegelapan kepada cahaya terang (Islam). Patimura seorang pahlawan yang diklaim sebagai seorang Nasrani sebenarnya dia adalah seoarang muslim yang taat.
Semangat jihad yang dikumandangkan para pahlawan semakin terbakar ketika para penjajah berusaha menyebarkan agama Nasrani kepada bangsa Indonesia yang mayoritas sudah beragama Islam yang tentu saja dengan cara-cara yang berbeda dengan ketika Islam datang dan diterima oleh mereka, bahwa Islam tersebar dan di anut oleh mereka dengan jalan damai dan persuasive yakni lewat jalur perdagangan dan pergaulan yang mulia bahkan walisanga menyebarkan dengan seni dan budaya. Para da’I Islam sangat faham dan menyadari akan kewajiban menyebarkan Islam kepada orang lain, tapi juga mereka sangat paham bahwa tugasnya hanya sekedar menyampaikan. Hal ini sesuai dengan Q.S. Yasin ayat 17 : ” Tidak ada kewajiban bagi kami hanyalah penyampaian ( Islam ) yang nyata”. 19

DAFTAR PUSTAKA
A.Syalabi, 2000, Sejarah dan Kebudayaan Islam III. Jakarta: Al-Husna Zikra
Abu Ayuhbah, M.M (1994). Kitab Hadits Shahih Yang Enam. Jakarta : Litera AntarNusa
Al-Mawardi, Abu Al-Hasan,Tt, Cendikiawan Muslim.[Online]. Tersedia:http://id.wikipedia.org [20 agustus 2009]
Amin, Husain Ahmad. 2000. Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam. Bandung: Remaja Rosda Karya
Ash-Shiddieqy, T.M.H. (1971). Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Islam. Jakarta : Bulan Bintang.
Ash-Shiddieqy, T.M.H. (1993). Ilmu-Ilmu Alquran. Jakarta : Bulan Bintang.
As-Shobuni, M.A. (1985). At-Tibyan fi ‘Ulumil Quran. Bairut : ‘Alimul Kitab
El-Saha.M.Ishom ,2002, 55 Tokoh Muslim Terkemuka.Jakarta:Darrul Ilmi
Ishom, M. dan Hadi, Saiful. (2004). Profil Ilmuan Muslim Perintis Ilmu Pengetahuan Modern. Jakara: Fuzan Intan Kreasi.
Kamiluddin, U. (2006). Menyorot Ijtihad Persis. Bandung : Tafakkur.
Masur, Hasan. Khoiruddin,Abdul Wahhab. Addinul Islamy. Gontor Press: Ponorogo.
Mudzakir, A.S. (2004). Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Jakarta : Lintera Antar Nusa
Murtiningsih, W. (2008). Biografi Para Ilmuan Muslim. Yogyakarta: Insan Madani.
Musthofa, S.(1987).The science of islam. [Online]. Tersedia di http://www.ilmuilmuislam.com [20 Agustus 2009]

No comments:

Post a Comment